https://www.shutterstock.com/image-illustration/netiquette-polite-online-behavoir-web-etiquette-1282363534
Digital etiquette atau netiquette adalah etika dalam berkomunikasi lewat internet. Netiquette memiliki fungsi yang sama di dalam lingkungan sosial manusia, tata krama atau sopan santun yang harus diperhatikan dalam pergaulan agar hubungan selalu baik. Pengetahuan etika dalam menggunakan internet akan meminimalisir adanya dampak negatif dari penggunaan internet.
Sosok Reemar Martin, Artis TikTok Filipina yang Diserang Netizen Indonesia
https://akcdn.detik.net.id/community/media/visual/2020/04/28/463a3e8f-7c30-4dcd-bab8-48af130e7b66.jpeg?w=600&q=90
Artis TikTok asal Filipina Reemar Martin dibanjiri ujaran kebencian dari netizen Indonesia terutama wanita. Namanya jadi perbincangan karena diduga banyak wanita Indonesia tak senang jika pacarnya mengidolakan Reemar Martin.
Sosok Reemar Martin dengan parasnya yang cantik membuat dirinya populer di TikTok dan dikagumi pria. Para pria Indonesia yang mengidolakan kecantikan Reemar Martin ini lah dinilai sebagai penyebab dirinya dibenci oleh wanita Indonesia.
Pacar pria yang mengidolakan Reemar Martin ini merasa cemburu. Wanita Indonesia membenci Reemar Martin karena sosoknya membuat hubungan asmara dengan pacarnya berantakan.
“Pakai pelet ya lu?” komentar netizen Indonesia. “Eh inget ya gue ada dendam sama lu,” tambah lainnya. “Fansnya orang Indo semua, tanpa orang Indo bisa apa lu,” imbuh lainnya.
Tak sedikit dari netizen Indonesia mereport akun media sosial Reemar Martin hingga membuat media sosialnya keblokir. Reemar pun terpaksa harus membuat Facebook dan Instagram baru serta meminta netizen agar tak mereport akunnya lagi.
Banyak netizen Indonesia lainnya menyayangkan rekan satu negara yang menghujat dan membenci Reemar Martin karena kecantikan yang dimilikinya. Tak sedikit dari mereka juga merasa malu. “Maafin cewek Indo ya, mereka yang hate comment gue yang malu,” komentar netizen.
Pendapat Ahli
Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang Yudi Suharsono, M.Si memberikan tanggapannya.
Menurut Yudi, faktor para netizen membully Reemar disebabkan belum adanya kematangan diri dari yang bersangkutan.
Pasalnya, seseorang yang menggemari dan membenci suatu hal harus memahami tingkat batasannya.
"Faktornya terdapat pada kematangan diri yang bersangkutan."
"Artinya seseorang yang menjadi gemar atau benci pada suatu hal, harusnya mengingat kembali pada batasnya," ujar Yudi
Dosen Fakultas Psikologi itu menuturkan, orang yang berlebihan membully public figure bisa dikatakan belum dewasa.
"Kalau orang dewasa harusnya bisa membedakan, menempatkan mana yang harus dilakukan secara proporsional dan tidak berlebih," ungkapnya.
Yudi menilai, tindakan menyerang public figure secara berlebihan, bisa jadi karena adanya faktor kepribadian yang mempengaruhi.
"Kalau sudah berlebih pasti ada sesuatu yang tidak pas atau salah pada dirinya."
"Bisa jadi itu kepribadiannya dia, seperti memiliki sindrom tertentu," tutur dia.
Kendati demikian, Yudi menegaskan, tindakan pembullyan yang dilakukan warganet Indonesia tidak bisa dibenarkan.
"Dimana pun, pembullyan itu suatu perbuatan yang tidak dibenarkan."
"Sebab bisa menimbulkan sakit hati dan kekecewaan," pungkasnya.
Pendapat Pro
Dalam berinteraksi di sosial media etika yang harus dilakukan adalah bersikap positif. Sikap positif ini meliputi akun yang diikuti serta informasi yang didapat dan diberikan. Penggunaan tutur kata di media sosial harus menggunakan kalimat yang sopan. Menghindari mengunggah informasi dan data pribadi hingga memastikan informasi yang dibagikan valid.
Apapun yang diunggah di media digital menjadi rekam digital kita dan dapat diakses siapapun, termasuk oleh generasi kita di kemudian hari. Dampak rekam jejak digital akan berpengaruh pada beberapa hal, seperti karier, relasi personal, pergaulan sosial, citra di masyarakat, dan keamanan. Oleh karena itu, kita harus bijak berinteraksi sebagai individu dan warga negara yang baik.
Pendapat Kontra
Kemudahan akses informasi akan menjadikan masyarakat untuk mengeluarkan opini dan pendapat serta informasi personalnya kepada masyarakat lain dan dapat menanggapi pula konten dari netizen lainnya, fenomena ini disebut dengan budaya partisipasi.
Budaya partisipasi di masyarakat informasi ini mengakibatkan impaksi yang mana masyarakat internet atau netizen dapat memproduksi dan mendistribusi informasi dan dapat memegang control sendiri. Masyarakat akan seolah bebas dalam mengkontruksikan dan merepresentasikan dirinya sendiri di internet dan media sosial. Fenomena kebebasaan dalam produksi dan pendistribusian informasi dalam internet dan media sosial menyebabkan konten informasi yang tersebar tidak dapat untuk dikendalikan dan seolah tidak ada batasan yang mengatur.
Sumber:
https://poskita.co/2020/05/11/netiket-pentingnya-etika-di-dunia-maya/
https://wolipop.detik.com/foto-entertainment/d-4994801/sosok-reemar-martin-artis-tiktok-filipina-yang-diserang-netizen-indonesia/7
https://www.tribunnews.com/seleb/2020/04/29/viral-artis-tiktok-filipina-reemar-martin-dibully-netizen-indonesia-psikolog-ungkap-faktor-penyebab?page=3
https://www.industry.co.id/read/90365/netiket-pentingnya-etika-di-dunia-maya
https://biz.kompas.com/read/2021/07/22/103536128/pentingnya-etika-dalam-bermedia-sosial-agar-jejak-digital-tetap-positif
http://dip.fisip.unair.ac.id/id_ID/kebebasan-berekspresi-dan-berpendapat-serta-regulasi-yang-mengaturnya-dalam-masyarakat-informasi-di-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar