Apa Itu Digital Downtime ?
Smartphone dan media sosial telah mengubah kehidupan anak-anak Anda dan sering kali berfungsi sebagai pengganti palsu untuk koneksi manusia. Remaja perlu diingatkan untuk memutuskan hubungan dari dunia digital dan menghabiskan waktu dengan teman dan keluarga secara tatap muka untuk mengembangkan keterampilan sosial penting yang diperlukan untuk masa dewasa. Manfaatkan aplikasi dan perangkat yang dimaksudkan untuk membantu orang tua mengelola waktu pemakaian perangkat dan membatasi akses ke aplikasi. Dengan kata lain digital downtime adalah aturan yang dibuat untuk mencegah kecanduan hidup dalam dunia digital dan lebih fokus ke kehidupan nyata.
Contoh Kasus
Alasan Ilmiah Kenapa Orang Kecanduan Gadget dan Jadi Phubbing
Phubbing, istilah untuk orang yang lebih fokus main gadget dan tidak mempedulikan sekitarnya, semakin umum terjadi dan mulai mengkhawatirkan. Ternyata ada alasan ilmiah kenapa seseorang menjadi phubbing.
Dikutip dari Science Daily, Rabu (11/8/2021) istilah ini berasal dari bahasa Inggris phone snubbing yang berarti sikap mengabaikan seseorang yang berinteraksi dengan kita karena perhatiannya lebih tertuju pada ponsel.
Meski hal ini mungkin terlihat sebagai hal biasa, berdasarkan studi terbaru di University of Georgia, phubbing dapat berdampak serius pada hubungan, dan ada berbagai faktor yang dapat mendorong individu mengabaikan mereka demi layar gadget.
Studi ini mengungkapkan hubungan positif antara depresi dan kecemasan sosial pada peningkatan phubbing. Menurut studi tersebut, orang yang depresi cenderung lebih sering melakukan phubbing kepada lawan bicaranya, dan orang yang cemas secara sosial, yang mungkin lebih memilih interaksi sosial secara online ketimbang komunikasi tatap muka, mungkin juga menunjukkan lebih banyak perilaku phubbing. Ciri-ciri kepribadian seperti neurotisisme juga mempengaruhi perilaku phubbing.
"Dan tentu saja, beberapa orang yang memiliki kecemasan sosial atau depresi yang tinggi lebih cenderung kecanduan smartphone mereka," kata Juhyung Sun, penulis utama makalah ini yang menyelesaikan gelar masternya dalam studi komunikasi di University of Georgia.
Menurutnya, perilaku phubbing menunjukkan sejumlah wawasanmendasar tentang bagaimana teknologi mengganggu interaksi sosial.
"Saya mengamati begitu banyak orang menggunakan ponsel mereka saat mereka sedang duduk bersama teman-teman di kafe, kapan pun waktu makan, terlepas dari jenis hubungan mereka," kata Sun.
Dia pertama kali mempertimbangkan beberapa alasan negatif di balik phubbing antara lain kecanduan smartphone dan terkait kebiasaan untuk terus-menerus membaca notifikasi yang muncul di layar gadget.
"Orang-orang sangat sensitif terhadap notifikasi mereka. Dengan setiap getar atau suara, kita secara sadar atau tidak sadar akan langsung melihat ponsel kita," katanya.
Sun mencatat, utilitas perangkat yang luas di seluruh aplikasi, mulai dari fungsi prediksi cuaca hingga berita terkini, adalah pendorong utama yang menciptakan dinamika ini.
Temuan lain dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa individu dengan kepribadian menyenangkan menunjukkan perilaku phubbing lebih rendah. Orang dengan ciri kepribadian ramah cenderung menunjukkan perilaku kooperatif, sopan, dan ramah dalam hubungan interpersonal dan pengaturan interaksi sosial mereka.
"Mereka memiliki kecenderungan tinggi untuk menjaga keharmonisan sosial sambil menghindari pertengkaran yang dapat merusak hubungan mereka. Dalam percakapan tatap muka, orang-orang dengan tingkat keramahan yang tinggi menganggap phubbing adalah perilaku yang kasar dan tidak sopan kepada lawan bicara mereka," jelas Sun.
Jennifer Samp, profesor di University of Georgia Franklin College of Arts and Sciences departemen studi komunikasi dan pembimbing Sun dalam penelitian ini mengatakan dirinya percaya bahwa tindakan phubbing mungkin memiliki implikasi lebih besar setelah publik dalam kelompok lebih besar bisa kembali ke berinteraksi tatap muka secara lagsung setelah pandemi mereda.
"Orang-orang sangat bergantung pada ponsel dan teknologi lain untuk tetap terhubung selama pandemi. Bagi banyak orang, tetap terhubung melalui chat dan video lebih nyaman daripada interaksi tatap muka. Akankah orang-orang, terutama yang memiliki kecemasan, masih akan berperilaku phubbing ketika bisa bertemu lagi secara fisik? Waktu yang akan menjawabnya," tutupnya.
Pendapat Ahli
Menurut psikolog Ketty Murtini hal ini rentan menyebabkan sejumlah masalah bagi kesehatan mental, seperti rasa kesepian dan stres "Hal ini menyebabkan berkurangnya intensitas interaksi dengan orang lain sehingga rentan membuat seorang individu merasa bosan atau bahkan mengalami stres," kata psikolog dari Biro Psikologi Metafora Purwokerto, Jawa Tengah, Ketty Murtini.
Pendapat Pro
Setiap orang seharusnya memang lebih berfokus hidup kepada kehidupan nyata dibanding kehidupan digital karena kehidupan nyata lebih memberikan pengalaman hidup yang nyata seperti dapat berinteraksi dengan orang lain lebih lancar dan dapat membangun hubungan dengan orang lain lebih jelas.
Pendapat Kontra
Setiap orang tidak selalu memiliki banyak hubungan dengan orang lain di kehidupan nyata sehingga mereka mencarinya di dunia digital, lagipula memiliki banyak relasi di kehidupan digital tentunya tidak membuat orang tersebut kesepian.
Sumber:
https://safesitter.org/digital-citizenship/
https://inet.detik.com/science/d-5678290/alasan-ilmiah-kenapa-orang-kecanduan-gadget-dan-jadi-phubbing
https://www.suara.com/health/2021/10/12/223500/psikolog-kurang-interaksi-sosial-bikin-orang-rentan-stres-di-masa-pandemi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar